Archive for May, 2008
“Local Genius” sebagai Asset Utama Keunikan Pariwisata Bali
“Local Genius” sebagai Asset Utama Keunikan Pariwisata Bali
Oleh:
I Gusti Bagus Rai Utama, SE.,
MMA., MA.
Local
Genius adalah mutiara
mutiara terselubung suatu daerah yang dapat berbentuk aneka ragam budaya,
adat-istiadat, serta kesenian dengan segala spesifikasinya (Sukarata, 1999).
Budaya merupakan totalitas dari symbol-simbol, ritual, jiwa kepahlawanan,
aktifitas keseharian, dan serta nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat
tertentu yang membentuk identitas serta membedakannya dengan masyarakat yang lainnya
(Miller, 2006).
Globalisasi pelan namun pasti telah merampas segala aneka ragam
“budaya” Bangsa Indonesia, hal ini disebabkan ketidakmampuan kita memilih,
memilah, dan meramu pengaruh globalisasi tersebut menjadi sebuah budaya yang
lebih kreatif bagi bangsa ini. Ambillah sebuah contoh: masakan tradisional yang
seharusnya menjadi makanan kebanggaan bangsa telah digantikan oleh makanan
cepat saji yang bermotif bisnis waralaba, sepeda gayung yang semestinya masih
sangat layak bagi mayoritas orang Indonesia yang masih hidup miskin, telah
digantikan oleh kendaraan bermotor yang justru menimbulkan masalah polusi, dan
pemborosan energi. Budaya konsumtif telah menggantikan budaya kreatif ditambah
lagi budaya maniak produk luar negeri, sungguh telah membuat kita kehilangan
identitas diri, padahal bangsa Indonesia sebenarnya memiliki identitasnya
sendiri yang semestinya dapat dikemas menjadi local genius yang
tiada duanya di dunia ini.
Jika kita Hawaii dapat Bali (Croall, 2005). Kita harus berani menolak secara terbuka terhadap prostitusi,
mau melakukan adopsi budaya asing, haruslah dengan bijaksana dan hati-hati
khususnya hal-hal yang berhubungan dengan bisnis pariwisata agar tidak
memunculkan budaya baru yang cenderung dapat merusak budaya yang seharusnya
dilestarikan. Pengalaman bahwa pariwisata sebagai faktor perusak utama terhadap
budaya orang
menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi pariwisata
kasino atau segala jenis perjudian, obat-obatan terlarang, dan eksploitasi alam
di negeri ini, jika tidak, kita akan dengan sangat cepatnya kehilangan
identitas diri yang selanjutnya menjadi bangsa yang miskin local genius.
Local Bali . Artinya, Bali .
Genius bukanlah sesuatu
yang semata-mata berbau primitif atau tradisional, tetapi local genius
dapat terbentuk dan dibentuk saat ini yang dapat dimulai dari setiap individu,
kelompok, bahkan sebuah bangsa yang menandakan adanya keunikan tertentu. Dalam
konteks pariwisata saat ini, ada tiga hal penting yang biasanya menjadi
indikator destinasi pariwisata yang berkualitas, diantaranya adalah: kemampuan
destinasi dalam melestarikan sumber daya alami “natural resources”,
minimalisasi tingkat polusi termasuk juga kemacetan lalu lintas, dan keunikan.
Ketiga hal ini menjadi pertimbangan utama calon wisatawan dalam menentukan
destinasi yang akan dikunjungi. Tradisi, seni, serta nilai-nilai yang dianut
oleh masyarakat Bali dapat membentuk local genius dan menjadi
asset utama keunikan pariwisata
jika pariwisata Bali diharapkan terus berkembang dimasa yang akan datang,
haruslah ada usaha untuk membentuk local genius baru yang kreatif
atau mempertahankan local genius yang telah ada dengan melakukan
sedikit mungkin modifikasi pengaruh asing yang dianggap positif dan dapat
diadopsi oleh masyarakat
Dalam hal Bali dengan cara,
ini, pemerintah diharapkan dapat menjadi motivator pelestariannya serta
melahirkan local genius baru yang menandakan kreatifitas dan
dinamika budaya masyarakat
seperti pengadaan festival budaya (PKB)
secara rutin, pemberian pengakuan dan penghargaan kepada para pencipta dalam
bentuk hak paten, menindak tegas para pembajak hasil karya orang lain, serta
usaha-usaha lain yang mengarah pada lahirnya local genius baru.
—————————–
Penulis: Staff Pengajar Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen
“Pariwisata” Dhyana Pura, Badung, Alumnus International Master Program in
Leisure and Tourism Studies, CHN Leeuwarden, Belanda.
MERUBAH GAYA HIDUP UNTUK MENGIRIT ENERGI
MERUBAH GAYA HIDUP UNTUK MENGIRIT ENERGI
Oleh: IGB. Rai Utama, SE., MMA., MA.
Menurut Data dari Divisi Efisiensi Energi Pusat Teknologi Energi BPPT tahun 2004, dalam bentuk perhitungan elastisitas dengan melihat indikator pertumbuhan konsumsi energi dibanding pertumbuhan ekonomi dan intensitas dengan melihat indikator jumlah konsumsi energi per PDB. Ternyata Indonesia termasuk paling tinggi dibandingkan Thailand, AS, Kanada dan Jepang.
Kalau dijabarkan lebih rinci ternyata Indonesia dengan dengan elastisitas 1,84 dan intensitasnya 400, sedangkan Thailand dengan elastistas 1,16 dan intensitasnya 350, AS dan Kanada dengan elastisitas 0,26 dan intensitasnya 300, sedangkan Jepang tercatat dengan elastisitas 0,1 dan intensitasnya 200. Artinya, orang Indonesia sangat boros energi, padahal konsumsi energi Indonesia tergolong kecil.
Dalam keseharian kita di Indonesia, ternyata memang benar, lebih banyak menghabiskan energi dibanding bangsa lainnya, seperti misalnya, kita mandi dua kali sehari, mencuci pakaian dengan mesin cuci dua kali seminggu, setrika pakaian keluarga dua kali seminggu, belum lagi kalau rumah harus dijaga oleh seorang pembantu yang dalam kenyataan, televisi kita akan “on” sepanjang hari. Kesemuanya itu lebih banyak disebabkan oleh faktor budaya orang Indonesia yang menghendaki gaya hidup lebih nyaman padahal dalam kenyataan mungkin pendapatan tidak cukup untuk mengimbangi gaya hidup baru tersebut. Akan sangat berbeda dengan orang eropa misalnya, mereka mungkin mandi hanya sekali sehari, bahkan pada musim dingin mereka hanya mandi sekali dalam tiga hari, mereka sudah terbiasa menjalankan hidup tanpa seorang pembantu, mereka sudah biasa memakai pakaian yang tidak harus disetrika.
Kalau kita melihat budaya masak-memasak orang Indonesia menghabiskan energi mungkin empat kali lebih boros daripada orang eropa, sebut saja misalnya, jika kita harus memasak “Ayam Goreng +++” berapa lama harus dimasak, berapa besar listrik atau gas yang mesti kita keluarkan untuk itu, sementara orang eropa hanya ambil roti lapis keju sudah membuat mereka kenyang.
Untuk keluar dari budaya boros energi, kita harus merubah budaya tersebut. Mestinya harus dimulai dari kesadaran individu, perlu dukungan pemerintah berupa pembatasan-pembatasan pemakaian energi per rumah tangga secara tegas. Pemerintah perlu menyediakan akses untuk keluar dari lingkaran budaya boros energi tersebut. Jika kendaran bermotor dianggap sebagai faktor pemboros energi terbesar orang Indonesia, kenapa pemerintah tidak menyediakan infrastruktur yang dapat dipakai oleh pengguna sepeda gayung misalnya atau memperbaiki sistem transportasi umum yang sangat kacau balau.
Jika kita harus mengikuti harga pasar energi secara internasional, akan lebih baik juga mempertimbangkan, apakah standar pendapatan yang ditetapkan di Indonesia sudah mengikuti mekanisme pasar tenaga kerja Internasional? Sementara saat ini, pemerintah hanya mampu mengutak-atik harga minyak yang cenderung mengabaikan faktor pendapatan rata-rata orang Indonesia. Kenyataan lain, pemberian subsidi untuk energi listrik dan juga BBM cenderung tidak tepat sasaran, dan lebih banyak dinikmati golongan yang semestinya tidak memerlukan subsidi.
Di lapangan, masih banyak kita temukan perkantoran-perkantoran khususnya kantor pemerintah masih banyak menyalakan lampu pada siang hari, pemanfaatan elektronik yang tidak bijaksana, penggunaan AC yang sebenarnya tidak terlalu perlu, dan lebih parah lagi masih sering kita temukan lampu penerangan jalan yang masih menyala padahal hari sudah terang.
Intinya, jika kita ingin keluar dari lingkaran boros energi, kita harus berani dan mau merubah budaya dan gaya hidup kita, yang dimulai dari perubahan budaya dan gaya hidup individu masyarakat, dan tentunya harus didukung pemerintah dalam bentuk tindakan yang dapat diteladani oleh masyarakat.
————
Penulis: Dosen Tetap Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Dhyana Pura, Badung, dan Alumnus MA International Leisure and Tourism Studies, CHN University of Netherlands.












