Pemimpin Berwibawa dan Bijaksana
July 26th, 2007 by raiutama
Pemimpin Berwibawa dan Bijaksana
Oleh I Gusti Bagus Rai Utama
http://rai.blogsome.com
Kondisi Bali saat ini
Keunikan
komunitas masyarakat Bali sangat jelas terlihat, dimana nampak jelas
budaya Bali dan agama Hindu seperti tidak ada sekat pembatas yang jelas
sehingga sangat sulit untuk dipilah-pilah mana budaya dan agama, sangat
berbeda dengan daerah-daerah lain di Indonesia. Keunikan dan
kelestarian agama Hindu dan Budaya Bali telah menjadi kekuatan dan
sekaligus juga menjadi kelemahan, karena keunikan ini hanya hanya
dimiliki oleh Bali yang tergolong komunitas kecil di Indonesia.
Pemetaan daerah berdasarkan otonomi kabupaten juga membawa implikasi
pada posisi dan wibawa seorang gubernur tidaklah se-“powerful” sebelum
otonomi diterapkan. Ketimpangan pembangunan antar kabupaten juga telah
menjadi kenyataan yang tak terbantahkan lagi, ada kabupaten yang sangat
makmur di satu sisi ada kabupaten yang tersengal-sengal untuk
menghidupi daerahnya. Kenyataan yang lain juga terjadi pada ketimpangan
sektor pembangunan antara pariwisata dan pertanian yang masih dilakoni
sebagian besar masyarakat Bali. Kondisi rumah sakit yang ada di Bali
masih tinggi tingkat hunian kamarnya juga menunjukkan bahwa bidang
kesehatan masyarakat masih sangat rendah.
Melihat geliat suksesi
yang akan segera digulirkan, rasanya sangatlah pas, jika kita mulai
memilih dan memilah pemimpin seperti apa yang sebaiknyanya buat Bali
kedepan?
Pendekatan manakah yang cocok buat Bali? Tentu saja
Gubernur Bali yang akan dipilih sangat berbeda dengan seorang kepala
suku, begitu juga dia bukanlah seorang pemimpin agama, karena
nyata-nyata masyarakat Bali bukanlah hanya pemeluk salah satu agama
saja. Begitu juga, masyarakat Bali bukanlah hanya suku Bali saja. Dalam
kontek pemerintahan yang bijaksana dan berwibawa bukanlah hanya diukur
dari besarnya pendukung saja, namun sebaiknya mampu mengelola
masyarakat kedalam dirinya sendiri layaknya seorang pimpinan dan juga
berwibawa ditingkat nasional, dan diterima di tingkat internasional
layaknya seorang pemimpin. Dalam artian, pendekatan konservatif tentu
saja tidak relevan lagi buat pemilihan Gubernur Bali ke depan.
Alasannya, sebagai daerah tujuan wisata internasional, gubernur Bali
haruslah dapat diterima ditingkat internasional, begitu juga sebagai
komunitas minoritas di Indonesia, Bali tidaklah mampu hidup sendiri
apalagi sumber daya yang dimiliki Bali sangatlah terbatas.
Perubahan
perilaku masyarakat Bali dari konserver kearah konsumer dan kapitalisme
pada semua aspek kehidupan masyarakat Bali sebaiknya akan menjadi
agenda pemerintahannya. Perubahan ini memang wajar terjadi pada
masyarakat sebagai implikasi pada persentuhan dengan nilai-nilai
global. Namun harus disadari, bahwa tidaklah semua nilai-nilai global
tersebut bersesuaian dengan nilai-nilai lokal yang ada pada masyarakat
Bali.
Pendekatan Ideal
Gubernur Bali kedepan, akan sangat pas
jika menggunakan pendekatan demokratis yang representatif, dalam artian
dia berasal dari kelompok mayoritas di daerah tentunya, namun tetap
harus diingat bahwa banyaknya pendukung massa tidak satu-satunya
indikator kewibawaan dan kebijaksanaan seorang gubernur. Sudah lama
kita mengidam-idamkan seorang pemimpin yang berjiwa ”ngayah” melayani,
bukan malah dilayani, apalagi mengganggap dirinya seorang raja.
Walaupun saat ini, para bupati dan gubernur yang berjiwa melayani masih
sangat langka kita temukan di Indonesia. Selain jiwa melayani, gubernur
ke depan sebaiknya mampu mengayomi seluruh golongan dan kelompok, bukan
hanya menjadi gubernur kelompok tertentu apalagi gubernur partai
tertentu. Dalam hal ini, mungkin sebaiknnya calon indipenden dapat
dimunculkan sebagai calon alternatif.
Calon gubernur yang ”mau”
membuat program pembangunan yang meminimalkan dampak negatif dan
memaksimalkan pengaruh positifnya sehingga generasi yang akan datang
tidak dibebani dengan kebobrokan dan kehancuran para pendahulunya
karena program yang baik bukan karena banyaknya program, tetapi
kualitas dari penyelesaian dari sebuah program. Koordinasi antardinas
yang sempat kocarkacir sebaiknya disatukan kembali, untuk sebuah visi
dan misi yang lebih relevan lagi dengan kondisi nyata masyarakat Bali.
Pemerintahannya
haruslah proaktif, transparan, diterima oleh masyarakat, berlandaskan
keseimbangan dan kesinambungan pembangunan ”people-profit-planet”.
Takut akan Tuhan artinya tidak akan bertoleransi dengan koruptor dan
korupsi, orientasi kesejahteraan rakyat banyak, serta peka terhadap
kelestarian dan keseimbangan alam Bali, dalam hal ini, tidak menjadikan
alam Bali sebagai target PAD.
————————
Penulis,
dosen Tetap STIM Dhyana Pura, Alumnus program pascasarjana MMA Unud,
mahasiswa MA in International Leisure and Tourism Studies CHN
Leeuwarden, Belanda.
Category Social Critic | No Comments »












