Prepared for Bahan Kuliah | Opini | Artikel | Download Gratis | Kumpulan bahan kuliah: judul, ekonomi, pariwisata, statistik, penelitian, metodologi, makro, mikro, pemasaran, perhotelan, sumberdaya manusia, akuntansi, sistem informasi, strategik, manajemen

Archive for April, 2007


Mengungkap Kisah kegagalan dibalik Kesuksesan Pariwisata Bali

Mengungkap Kisah kegagalan dibalik Kesuksesan Pariwisata Bali

“Antara Mitos and Kenyataan”

Oleh: IGB. Rai Utama, SE., MMA

http://raiutama.blogspot.com/

Chris Cooper, dkk (2005), mengganggap bahwa kegagalan pembangunan
pariwisata untuk membangun ekonomi masyarakat lokal di sebuah destinasi
sering disebabkan oleh adanya gap antara mitos dan kenyataan tentang
pariwisata itu sendiri. Di kalangan lembaga pendidikan dan juga
institusi pariwisata dan perhotelan juga sering bermitos pada hal yang
sama. Bagaimana dengan pariwisata Bali? Bagaimanakah mitos orang bali
terhadap pariwisata kita dan apa sebenarnya yang telah terjadi dalam
kenyataan di lapangan?

• Pembedaan pelayanan terhadap wisatawan asing dan domestik

Sejak dulu, pariwisata Bali telah dipropagandakan sebagai sebuah
tujuan wisata internasional, dianggap para wisatawan yang datang ke
Bali kebanyakan adalah orang asing, padahal dalam kenyataan di lapangan
wisatawan domestik nampak lebih banyak daripada orang asing itu
sendiri. Wisatawan domestik tidak dilayani secara maksimal dan
cenderung kita sebagai karyawan dibidang pariwisata atau perhotelan
menganggap wisatawan domestik tidak berduit, kikir, dan kumal.
Misalnya, ketika wisatawan domestik mengunjungi sebuah artshop, jangan
harap dapat dilayani layaknya wisatawan asing karena masyarakat kita
sendiri telah terlalu tinggi bermitos bahwa wisatawan asing pasti
berkantong tebal. Ketika kita mengalami krisis wisatawan asing, kita
baru tersadar bahwa wisatawan domestik sangat berharga bagi kita.
Kenyataan ini juga sebenarnya peluang dan kesempatan bagi para pelaku
pariwisata di Bali untuk mengkemas sebaik mungkin pariwisata itu
sendiri dari penanaman etika akan nilai-nilai kemanusiaan bahwa semua
manusia entah dia sebagai wisatawan asing atau domestik adalah sama
derajat, bukan diukur atas mitos materialisme belaka. Data statistik
wisatawan asing lebih suka ditampilkan daripada data wisatawan domestik
sebagai indikator keberhasilan pariwisata itu sendiri dengan alasan
kemudahan memperoleh data, dan sekaligus menunjukkan bahwa kelemahan
mendasar pada pendataan wisatawan kita selama ini yakni menelantarkan
pendataan wisatawan domestik.

• Kesenjangan pembangunan transportasi udara dan darat serta laut.

Mitos yang sama juga terjadi pada dunia transportasi, dimana
pariwisata Bali dianggap hanya bisa dijangkau oleh transportasi udara.
Kenyataan ini bisa kita lihat bahwa pembangunan pada fasilitas
transportasi udara jauh lebih maju daripada pembangunan trasportasi
laut dan transportasi darat. Sumber daya dan kenyataan bahwa Indonesia
negeri maritim tidak mendapat perhatian yang maksimal dan cenderung
diabaikan. Pelabuhan laut dibangun ala kadarnya sekedar kapal bisa
bersandar padahal jika transportasi laut juga dibangun seperti layaknya
di negeri Belanda dan Inggris pastilah akan menjadi daya tarik yang
luar biasa bagi wisatawan. Lebih parah lagi dengan transportasi darat,
penataan jalan raya yang amburadul akan menyebabkan kemacetan di
mana-mana, padahal dalam kenyataan para wisatawan secara langsung
berhadapan dengan fasilitas ini. Sistem transportasi umum yang tidak
memiliki standar yang jelas sangat bertolak belakang dengan mitos
tentang daerah tujuan wisatawan internasional.

• Pariwisata dianggap hanya liburan saja padahal juga berbagai jenis kegiatan seperti bisnis, rapat, pendidikan dan sebagainya.

Kegiatan pariwisata dianggap sebagai kegiatan seseorang yang hanya
sedang berlibur dan bersenang-senang menikmati hari-harinya, padahal
dalam kenyataan pariwisata itu sendiri sering dikemas dengan kegiatan
lain seperti misalnya rapat-rapat entah pada level internasional,
nasional, bahkan level perusahaan. Pariwisata juga sering dikemas
dengan paket program pendidikan seperti studi trip, olahraga, hobi,
politik, dan kegiatan lain yang cenderung akan terus berkembang. Dalam
hal ini, praktisi pariwisata dapat mengambil kenyataan ini sebagai
peluang untuk memperkaya jenis paket wisata yang tidak hanya
mengandalkan paket liburan saja. Sebagai contoh, Singapura berani
membuat paket wisata hanya berdurasi 4 jam untuk para penumbang
penerbangan yang sedang transit. Dan tentu saja paket yang lain juga
akan bisa di buat tergantung seberapa besar daya kreasi para praktisi
pariwisata di daerah ini.

• Terlalu Menuntut Tenaga Kerja Pariwisata harus mampu berbahasa
asing padahal Sedikit sekali yang berhadapan langsung dengan wisatawan
asing.

Kita sering dimitoskan bahwa jika kita ingin terjun pada pekerjaan
bidang pariwisata harus mampu berbahasa asing setidak-tidaknya mampu
berbahasa Inggris, baik memang maksudnya. Kenyataan dilapangan hanya
sedikit saja para pekerja yang terlibat langsung dengan keharusan
berbahasa asing, sebut saja misalnya para pemandu wisata, para pelayan
restoran dan kamar, pegawai pada kantor depan, dan selebihnya hampir
dapat dibilang tidak secara langsung berhubungan dengan bahasa asing.
Penekanan pembangunan SDM hanya dititikberatkan pada penguasaan bahasa
asing, dan cenderung melupakan pembangunan etika kerja, budaya, dan
kemanusiaan. Dan masalah yang timbul sekarang adalah terbentuknya
masyarakat Bali yang materialistik dan cenderung kehilangan rasa
persahabatan antar sesama. Senyuman dari para pekerja pariwisata
bermotivkan uang bukan karena atas kesukaan atas pelayanan terhadap
wisatawan. Hal-hal yang berbau tradisional dianggap kuno untuk diadopsi
di industri pariwisata, sebut saja misalnya sulitnya makanan
tradisional menjadi menu utama pada hotel-hotel di Bali.

• Anggapan Pariwisata Identik dengan Perusahaan Multinasional padahal pada awalnya dimulai dari bisnis kecil

Hotel hotel dibangun sangat megah dan cenderung mengadopsi
teknologi dan budaya negara maju karena dibangun oleh perusahaan
multinasional itulah mitos yang telah terbentuk dibenak para pendahulu
kita, dan pada akhirnya telah melahirkan kesenjangan antara lokal dan
internasional sungguh kenyataan yang tidak mungkin kita hindari karena
kenyataan itu telah terjadi di pulau Bali ini. Masyarakat Bali hanya
kebagian remah-remah dari derap laju pariwisata di daerahnya. Kenyataan
ini terjadi karena para pendahulu kita terlalu bermitos yang serba
internasional padahal pariwisata kita sendiri menjual ketradisionalan
Bali sebagai daya tarik utamanya. Sandangan pariwisata budaya hampir
tidak terasa lagi karena budaya masyarakat telah berubah begitu
cepatnya, langkanya SDM yang mempelari budaya, seni dan berkesenian
akibat kurangnya penghargaan dan perhatian pada bidang tersebut telah
mengurangi keunikan bali sebagai destinasi pariwisata budaya. Sulitnya
masyarakat lokal bergabung pada bisnis pariwisata saat ini juga karena
kita bermitos terlalu internasional.

• Anggapan pariwisata sebagai sebuah sektor khusus padahal Pariwisata merupakan multi-sektor yang saling berkaitan.

Sudah tidak usah diragukan lagi, mitos ini telah membuat gap antar
sektor pembangunan di Bali. Pariwisata telah terlalu jauh meninggalkan
sektor yang lainnya, seolah-olah pariwisata dapat berjalan sendiri.
Pariwisata tidak sekedar pembangunan hotel-hotel berbintang, restoran,
biro perjalanan, namun lebih daripada itu semua. Pembangunan masyarakat
Bali secara fisik dan mental sangat penting karena masyarakat merupakan
bagian dari produk wisata itu sendiri. Pariwisata dianggap sebagai dewa
perekonomian bali, sementara sebagian besar masyarakat bali tidak
terlibat secara langsung pada kegiatan pariwisata. Peta pertumbuhan dan
perkembangan pariwisata lebih berpusat pada radius seputar kawasan
bandara dapat menjadi bukti bahwa pembangunan telah berjalan tanpa
penataan yang baik. Kesohoran Pariwisata Bali hanya dinikmati oleh tiga
kabupaten saja sedangkan kabupaten lainnnya hanya mendengar cerita
sukses tanpa mampu berbuat banyak.

Pembangunan pariwisata bukanlah pembangunan yang berdiri sendiri
namun pembangunan multi sektoral yang saling berkaitan. Pembangunan
pariwisata juga pembangunan manusia seutuhnya yang berlandaskan atas
keseimbangan ekonomi, wilayah, dan kemanusiaan itu sendiri
(Profit-Planet-People). Jika kita menyebut pembangunan pariwisata bali
harusnya pembangunan dapat menjakau tujuan ekonomi, pemerataan wilayah
pembangunan, dan pengembangan masyarakat bali secara menyeluruh.

—————–

Penulis: Dosen STIM Dhyana Pura Badung, Alumnus Pascasarjana MMA
Unud, dan Mahasiswa MA International Leisure and Tourism Studies CHN
University Netherlands.

Stagnasi Pariwisata Bali

STAGNASI PARIWISATA BALI

Oleh: I Gusti Bagus Rai Utama, SE., MMA.

Lihat juga Artikel pada Opini Bali Post, Selasa, 27 Maret 2007

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2007/3/27/o2.htm

————–

Bila kita melihat perkembangan pariwisata Bali dan membandingkannya
dengan siklus perkembangan daerah tujuan wisata maka kita sebenarnya
telah berada pada titik stagnasi yang dihadapkan pada banyak dilemma.
Masalah gap antara sector pembangunan sebut saja misalnya pariwisata
dengan pertanian, degradasi identitas Bali sebut saja misalnya
komersialisasi tradisi dan prosesi keagamaan, degradasi kualitas
lingkungan, polusi, kemacetan lalulintas, kesemberautan kota juga
menambah deretan panjang persoalan pariwisata Bali.
————————

Anggapan bahwa pariwisata Bali telah berada pada titik stagnasi
dapat kita lihat dari indicator tingkat kunjungan wisatawan asing ke
Bali, yang cenderung menunjukkan angka yang stagnan bahkan beberapa
tahun sebelumnya sempat menurun. Para praktisi pariwisata dan juga
pemerintah daerah rupanya juga telah mengetahuinya namun sayang,
kebijakan yang diambil masih terlihat bersifat sementara dan kurang
menyeluruh untuk pembangunan pariwisata yang berkesinambungan. Sebut
saja misalnya, para praktisi hotel di Bali cenderung mengobral harga
kamarnya ketimbang penyelamatan kualitas destinasi pariwisata kedepan.
Kita bisa bayangkan, karena masih banyak sumberdaya yang digunakan pada
dunia perhotelan masih disubsidi, sebut saja misalnya energi listrik,
air, dan juga tenaga kerja yang harus rela bekerja lebih keras karena
tamu meningkat oleh sebab kamar diobral namun gaji tidak terlalu banyak
bertambah. Lebih parah lagi jika wisatawan diarahkan hanya tinggal di
hotel, sehingga kontak dengan objek wisata dan juga dengan masyarakat
local akan berkurang dan akhirnya dampak pengganda untuk ekonomi
masyarakat local akan dirasakan sangat kecil. Semua indicator ini
menunjukkan kita berada pada titik kebingungan dan cenderung mengambil
kebijakan yang bersifat sesaat.

Harus ada Innovasi

Pengalaman di beberapa daerah tujuan wisata yang telah berada titik
stagnasi telah mengambil langkah-langkah yang dianggap sebagai sebuah
innovasi. Innovasi dapat dilakukan dari yang paling tidak populer atau
bahkan yang paling sesuai dengan kepentingan masyarakat lokal. Kalau
pemerintah telah membentuk team pembentukan branding pariwisata Bali
dan tidak melakukan innovasi secara holistik maka usaha tersebut akan
sia-sia. Image haruslah sesuai dengan fakta, misalnya jika kita
menganggap branding pariwisata Bali adalah Pariwisata Budaya, benarkan
dilapangan telah menunjukkan karakteristik sebagai sebuah kota atau
destinasi yang berbudaya. Beberapa tahun yang lalu, sempat populer
istilah redesign pariwisata Bali namun sayang belum jelas seperti apa
pariwisata Bali ini diharapkan kedepan. Casino juga sempat menjadi
wacana yang panas, apakah mungkin dilakukan? Mungkin saja bisa namun
apakah cocok dengan harapan sebagian besar masyarakat? Itu yang menjadi
persoalannya. Ketika kita berjalan-jalan di sekitar kota London dan
mengunjungi tempat-tempat wisata yang masih tertata dengan rapi, bersih
dan terawat, kita dapat membayangkan wisatawan akan pulang dengan
membawa kesan yang luar biasa dan cenderung akan menjadi media promosi
yang sangat efektive. Coba kita bandingkan dengan Bali, apa yang
terjadi, kemacetan di hampir di setiap ruas jalan, kota yang dipenuhi
dengan sampah, air sungai yang tercemar, kriminalitas, objek-objek
wisata yang tidak tertata dan tidak terawat dengan serius akan menjadi
berita buruk bagi calon wisatawan dan pastilah akan menimbulkan kesan
yang kurang baik. Pernah Ekowisata sempat menjadi wacana, namun sayang
Bali tidak terlalu kuat menunjukkan karakteristik destinasi ekowisata,
lalu model innovasi seperti apakah yang cocok buat Bali? Mungkinkah
agrowisata? Persoalannya, mungkinkah masyarakat perhotelan
menyetujuinya?

Meningkatkan Kualitas Destinasi

Meningkatkan kualitas destinasi haruslah dilakukan sebagai usaha
yang menyeluruh bagi semua elemen produk wisata, dari transportasi,
hotel, restoran, objek wisata, dan tentu juga pelayanan yang lebih baik
kepada wisatawan. Sekarang yang menjadi persoalannya adalah masalah
standardnya seperti apa? Kalau wisatawan merasa takut melakukan
perjalanan ke Bali dengan alasan keselamatan penumpang tidak terjamin,
artinya kita haruslah meningkatkan kualitas transportasi yang ada,
kalau hotel sepi wisatawan itu merupakan efek domino dari persoalan
yang lain karena wisatawan datang ke Bali tidak hanya ingin tinggal di
hotel saja. Bagaimana wisatawan mau datang ke Bali jika objek wisata
dan komponen yang lainnya tidak sesuai dengan harapan wisatawan. Taman
kota yang tidak terawat dan langkanya ruang hijau terbuka juga
memperburuk kesan kota. Antara brosur yang dibaca dan dilihat tentang
Bali sudah tidak sesuai dengan fakta dilapangan. Masyarakat kita yang
tidak ramah lagi terhadap wisatawan, juga menjadi masalah yang serius
bagi kualitas destinasi. Introspeksi diri juga sebenarnya bagian dari
usaha meningkatkan kualitas destinasi, kesalahan yang telah dibuat
dimasa lalu akan menjadi pelajaran yang sangat berguna untuk masa
depan, sebut saja kelemahan keamanan Bali sempai-sampai bom meledak
sampai kedua kalinya juga menjadi pesan yang berguna untuk meningkatkan
keamanan sehingga kesan terhadap Bali juga akan menjadi lebih baik.
Kualitas lingkungan juga harus menjadi perhatian yang serius, untuk hal
ini pariwisata mestinya berjalan bersama dengan pertanian dalam arti
luas yang diharapkan dapat menjadi benteng kelestarian alam Bali dengan
kekayaan konsep subak dan Tri Hita Karana (THK) sehingga Branding
Pariwisata Budaya benar-benar sesuai dengan kenyataan di lapangan.

Legitimasi dan Urgensi

Pemerintah dan wakil rakyat yang mempunyai legitimasi dalam
perumusan kebijakan semestinya melihat stagnasi pariwisata Bali sebagai
langkah awal untuk malakukan innovasi secara holistik. Sedangkan para
praktisi pariwisata dan perhotelan serta masyarakat Bali secara
menyeluruh dapat memandang perlunya melakukan innovasi sebagai hal yang
urgensi. Innovasi yang dilakukan semestinya tidak berlawanan dengan
Identitas Bali. Jika kita tidak melakukan innovasi, jangan harap kita
dapat bermimpi indah lagi dengan pariwisata kita, karena di luar
Indonesia sudah bertebaran destinasi baru yang siap memberikan harapan
dan kualitas yang mungkin lebih baik dari pariwisata Bali.

——————

Penulis: Dosen STIM Dhyana Pura Badung, Alumnus Pascasarjana MMA
Unud, dan Mahasiswa MA in International Leisure and Tourism Studies CHN
University Netherlands.