Mengungkap Kisah kegagalan dibalik Kesuksesan Pariwisata Bali
Mengungkap Kisah kegagalan dibalik Kesuksesan Pariwisata Bali
“Antara Mitos and Kenyataan”
Oleh: IGB. Rai Utama, SE., MMA
Chris Cooper, dkk (2005), mengganggap bahwa kegagalan pembangunan
pariwisata untuk membangun ekonomi masyarakat lokal di sebuah destinasi
sering disebabkan oleh adanya gap antara mitos dan kenyataan tentang
pariwisata itu sendiri. Di kalangan lembaga pendidikan dan juga
institusi pariwisata dan perhotelan juga sering bermitos pada hal yang
sama. Bagaimana dengan pariwisata Bali? Bagaimanakah mitos orang bali
terhadap pariwisata kita dan apa sebenarnya yang telah terjadi dalam
kenyataan di lapangan?
• Pembedaan pelayanan terhadap wisatawan asing dan domestik
Sejak dulu, pariwisata Bali telah dipropagandakan sebagai sebuah
tujuan wisata internasional, dianggap para wisatawan yang datang ke
Bali kebanyakan adalah orang asing, padahal dalam kenyataan di lapangan
wisatawan domestik nampak lebih banyak daripada orang asing itu
sendiri. Wisatawan domestik tidak dilayani secara maksimal dan
cenderung kita sebagai karyawan dibidang pariwisata atau perhotelan
menganggap wisatawan domestik tidak berduit, kikir, dan kumal.
Misalnya, ketika wisatawan domestik mengunjungi sebuah artshop, jangan
harap dapat dilayani layaknya wisatawan asing karena masyarakat kita
sendiri telah terlalu tinggi bermitos bahwa wisatawan asing pasti
berkantong tebal. Ketika kita mengalami krisis wisatawan asing, kita
baru tersadar bahwa wisatawan domestik sangat berharga bagi kita.
Kenyataan ini juga sebenarnya peluang dan kesempatan bagi para pelaku
pariwisata di Bali untuk mengkemas sebaik mungkin pariwisata itu
sendiri dari penanaman etika akan nilai-nilai kemanusiaan bahwa semua
manusia entah dia sebagai wisatawan asing atau domestik adalah sama
derajat, bukan diukur atas mitos materialisme belaka. Data statistik
wisatawan asing lebih suka ditampilkan daripada data wisatawan domestik
sebagai indikator keberhasilan pariwisata itu sendiri dengan alasan
kemudahan memperoleh data, dan sekaligus menunjukkan bahwa kelemahan
mendasar pada pendataan wisatawan kita selama ini yakni menelantarkan
pendataan wisatawan domestik.
• Kesenjangan pembangunan transportasi udara dan darat serta laut.
Mitos yang sama juga terjadi pada dunia transportasi, dimana
pariwisata Bali dianggap hanya bisa dijangkau oleh transportasi udara.
Kenyataan ini bisa kita lihat bahwa pembangunan pada fasilitas
transportasi udara jauh lebih maju daripada pembangunan trasportasi
laut dan transportasi darat. Sumber daya dan kenyataan bahwa Indonesia
negeri maritim tidak mendapat perhatian yang maksimal dan cenderung
diabaikan. Pelabuhan laut dibangun ala kadarnya sekedar kapal bisa
bersandar padahal jika transportasi laut juga dibangun seperti layaknya
di negeri Belanda dan Inggris pastilah akan menjadi daya tarik yang
luar biasa bagi wisatawan. Lebih parah lagi dengan transportasi darat,
penataan jalan raya yang amburadul akan menyebabkan kemacetan di
mana-mana, padahal dalam kenyataan para wisatawan secara langsung
berhadapan dengan fasilitas ini. Sistem transportasi umum yang tidak
memiliki standar yang jelas sangat bertolak belakang dengan mitos
tentang daerah tujuan wisatawan internasional.
• Pariwisata dianggap hanya liburan saja padahal juga berbagai jenis kegiatan seperti bisnis, rapat, pendidikan dan sebagainya.
Kegiatan pariwisata dianggap sebagai kegiatan seseorang yang hanya
sedang berlibur dan bersenang-senang menikmati hari-harinya, padahal
dalam kenyataan pariwisata itu sendiri sering dikemas dengan kegiatan
lain seperti misalnya rapat-rapat entah pada level internasional,
nasional, bahkan level perusahaan. Pariwisata juga sering dikemas
dengan paket program pendidikan seperti studi trip, olahraga, hobi,
politik, dan kegiatan lain yang cenderung akan terus berkembang. Dalam
hal ini, praktisi pariwisata dapat mengambil kenyataan ini sebagai
peluang untuk memperkaya jenis paket wisata yang tidak hanya
mengandalkan paket liburan saja. Sebagai contoh, Singapura berani
membuat paket wisata hanya berdurasi 4 jam untuk para penumbang
penerbangan yang sedang transit. Dan tentu saja paket yang lain juga
akan bisa di buat tergantung seberapa besar daya kreasi para praktisi
pariwisata di daerah ini.
• Terlalu Menuntut Tenaga Kerja Pariwisata harus mampu berbahasa
asing padahal Sedikit sekali yang berhadapan langsung dengan wisatawan
asing.
Kita sering dimitoskan bahwa jika kita ingin terjun pada pekerjaan
bidang pariwisata harus mampu berbahasa asing setidak-tidaknya mampu
berbahasa Inggris, baik memang maksudnya. Kenyataan dilapangan hanya
sedikit saja para pekerja yang terlibat langsung dengan keharusan
berbahasa asing, sebut saja misalnya para pemandu wisata, para pelayan
restoran dan kamar, pegawai pada kantor depan, dan selebihnya hampir
dapat dibilang tidak secara langsung berhubungan dengan bahasa asing.
Penekanan pembangunan SDM hanya dititikberatkan pada penguasaan bahasa
asing, dan cenderung melupakan pembangunan etika kerja, budaya, dan
kemanusiaan. Dan masalah yang timbul sekarang adalah terbentuknya
masyarakat Bali yang materialistik dan cenderung kehilangan rasa
persahabatan antar sesama. Senyuman dari para pekerja pariwisata
bermotivkan uang bukan karena atas kesukaan atas pelayanan terhadap
wisatawan. Hal-hal yang berbau tradisional dianggap kuno untuk diadopsi
di industri pariwisata, sebut saja misalnya sulitnya makanan
tradisional menjadi menu utama pada hotel-hotel di Bali.
• Anggapan Pariwisata Identik dengan Perusahaan Multinasional padahal pada awalnya dimulai dari bisnis kecil
Hotel hotel dibangun sangat megah dan cenderung mengadopsi
teknologi dan budaya negara maju karena dibangun oleh perusahaan
multinasional itulah mitos yang telah terbentuk dibenak para pendahulu
kita, dan pada akhirnya telah melahirkan kesenjangan antara lokal dan
internasional sungguh kenyataan yang tidak mungkin kita hindari karena
kenyataan itu telah terjadi di pulau Bali ini. Masyarakat Bali hanya
kebagian remah-remah dari derap laju pariwisata di daerahnya. Kenyataan
ini terjadi karena para pendahulu kita terlalu bermitos yang serba
internasional padahal pariwisata kita sendiri menjual ketradisionalan
Bali sebagai daya tarik utamanya. Sandangan pariwisata budaya hampir
tidak terasa lagi karena budaya masyarakat telah berubah begitu
cepatnya, langkanya SDM yang mempelari budaya, seni dan berkesenian
akibat kurangnya penghargaan dan perhatian pada bidang tersebut telah
mengurangi keunikan bali sebagai destinasi pariwisata budaya. Sulitnya
masyarakat lokal bergabung pada bisnis pariwisata saat ini juga karena
kita bermitos terlalu internasional.
• Anggapan pariwisata sebagai sebuah sektor khusus padahal Pariwisata merupakan multi-sektor yang saling berkaitan.
Sudah tidak usah diragukan lagi, mitos ini telah membuat gap antar
sektor pembangunan di Bali. Pariwisata telah terlalu jauh meninggalkan
sektor yang lainnya, seolah-olah pariwisata dapat berjalan sendiri.
Pariwisata tidak sekedar pembangunan hotel-hotel berbintang, restoran,
biro perjalanan, namun lebih daripada itu semua. Pembangunan masyarakat
Bali secara fisik dan mental sangat penting karena masyarakat merupakan
bagian dari produk wisata itu sendiri. Pariwisata dianggap sebagai dewa
perekonomian bali, sementara sebagian besar masyarakat bali tidak
terlibat secara langsung pada kegiatan pariwisata. Peta pertumbuhan dan
perkembangan pariwisata lebih berpusat pada radius seputar kawasan
bandara dapat menjadi bukti bahwa pembangunan telah berjalan tanpa
penataan yang baik. Kesohoran Pariwisata Bali hanya dinikmati oleh tiga
kabupaten saja sedangkan kabupaten lainnnya hanya mendengar cerita
sukses tanpa mampu berbuat banyak.
Pembangunan pariwisata bukanlah pembangunan yang berdiri sendiri
namun pembangunan multi sektoral yang saling berkaitan. Pembangunan
pariwisata juga pembangunan manusia seutuhnya yang berlandaskan atas
keseimbangan ekonomi, wilayah, dan kemanusiaan itu sendiri
(Profit-Planet-People). Jika kita menyebut pembangunan pariwisata bali
harusnya pembangunan dapat menjakau tujuan ekonomi, pemerataan wilayah
pembangunan, dan pengembangan masyarakat bali secara menyeluruh.
—————–
Penulis: Dosen STIM Dhyana Pura Badung, Alumnus Pascasarjana MMA
Unud, dan Mahasiswa MA International Leisure and Tourism Studies CHN
University Netherlands.












