Mewujudkan Pembangunan Bali Berkesinambungan
Masyarakat Bali haruslah proaktif dalam memberikan masukan tentang
kebijakan-kebijakan pembangunan di daerah ini. Setiap proyek yang
ditawarkan di Bali haruslah dikaji secara realitas dan faktual agar
tidak bertentangan dengan budaya yang telah ada. Untuk kesinambungan
pembangunan Bali, semua elemen masyarakat harus berpegang teguh pada
visi dan misi yang telah ditetapkan. Yang menjadi persoalan adalah,
sudahkan Bali memiliki visi dan misi tentang pembangunan ke depan?
——————-
Mewujudkan Pembangunan Bali Berkesinambungan
http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/10/12/o2.htm
Oleh I Gusti Bagus Rai Utama, S.E., MMA.
ADA indikasi bahwa masyarakan Bali telah mengalami pergeseran gaya
hidup, yang pada mulanya sangat teguh memegang konsep hidup harmonisasi
antara alam, manusia, dan penciptanya ke arah mementingkan diri sendiri
walaupun sepintas terlihat tempat-tempat suci keagamaan masih ramai
dikunjungi oleh penganutnya masing-masing.
—————————–
Indikasi lainnya, masyarakat Bali telah mengalami bergeseran dari
budaya conserver ke arah consumer, tidak peduli dampak negatif dari
sebuah usaha yang dilakukan di Bali yang penting uang dan uang.
Misalnya saja, beberapa puluh tahun yang lalu, sepeda gayung sangat
populer di masyarakat sebagai kendaraan rakyat waktu itu. Coba kita
lihat sekarang, sangat jarang kita lihat sepeda gayung di jalan raya.
Coba bandingkan dengan negara Cina, Belanda, dan beberapa negara di
Eropa. Mungkinkah Bali lebih maju dari mereka? Polusi udara dapat
dikurangi, ketergantungan pada BBM juga dapat dikurangi. Bandingkan
juga dengan India, mereka mau hidup menderita namun mereka tidak
dililit utang seperti negara kita.
Apa yang sebenarnya terjadi? Mungkinkah budaya luhur nenek moyang
kita berupa prinsip gotong royong dan kekeluargaan hanya tinggal
semboyan saja? Kalau berbicara pembangunan, sepintas terlintas di benak
kita adalah bangunan gedung, jalan raya, hotel dan sebagainya. Namun
sebenarnya yang dimaksud pembangunan adalah menyadarkan diri bahwa
hidup ini bukan untuk hari ini saja, tetapi untuk masa yang akan
datang. Jika setiap individu yang hidup di Bali sadar bahwa hidup ini
bukan hanya untuk hari ini saja, bukan hanya untuk dirinya saja,
pastinya Bali ini akan tetap ajeg.
Para investor yang telah berbaik hati ikut membangun Bali secara
phisik, tentunya sangat berjasa bagi masyarakat Bali. Sekarang yang
menjadi persoalan adalah, sudahkan para investor memikirkan bahwa usaha
yang dibangunnya di Bali harus tetap ajeg/sustainable? Pastilah mereka
telah memikirkannya dan telah mengusahakannya. Perusahaan-perusahaan
yang ada di Bali tidaklah hanya peduli pada kepentingan perusahaannya
saja, tetapi harusnya peduli dengan lingkungan di mana mereka berusaha,
ibarat seseorang yang memiliki angsa yang bertelur emas, si angsa harus
dirawat dan dipelihara agar tetap bertelur sepanjang masa.
Harus ada gerakan bersama pada semua elemen masyarakat, dari
individu, keluarga, kelompok, golongan, kaum pejabat dan sebagainya.
Jika yang peduli hanya satu atau dua elemen saja, pastilah usaha untuk
ajeg Bali sangat susah untuk diwujudkan. Harus ada gerakan Care for all
and Interinpendency, satu visi dan misi bersama untuk menyelamatkan
Bali dari kepentingan sesaat. Kejadian-kejadian di daerah lain, seperti
luapan lumpur panas, konflik pertambangan emas di Papua, dan
konflik-konflik lainnya sudah cukup menjadi bukti bahwa kaum investor
masih tergolong hanya mementingkan diri sendiri saja.
Masyarakat Proaktif
Masyarakat Bali haruslah proaktif dalam memberikan masukan tentang
kebijakan-kebijakan pembangunan di daerah ini. Setiap proyek yang
ditawarkan di Bali haruslah dikaji secara realitas dan faktual agar
tidak bertentangan dengan budaya yang telah ada. Misalnya saja,
cocokkah di Bali dibangun pabrik miras?
Membuat program pembangunan yang meminimalkan dampak negatif dan
memaksimalkan pengaruh positifnya sehingga generasi yang akan datang
tidak dibebani dengan kebobrokan dan kehancuran para pendahulunya.
Program yang baik bukan karena banyaknya program, tetapi kualitas dari
penyelesaian dari sebuah program. Pembangunan-pembangunan fisik masih
dilakukan secara parsial, sehingga menimbulkan dampak yang tidak baik.
Misalnya saja, kabel listrik, kabel telepon, saluran air seharusnya
dapat ditempatkan dalam satu saluran, kenapa harus digali berkali-kali?
Jalan raya yang berlubang-lubang, trotoar yang tidak berfungsi sungguh
tidak mencirikan sebuah kota sebagai international tourism destination.
Penomena pembangunan akhir-akhir ini di Bali sungguh membuat kita
prihatin, sebab beberapa proyek yang ditawarkan oleh investor di Bali
terkadang tidak sesuai dengan budaya dan tradisi di Bali. Mungkin saja
investor tidak salah karena memang pemegang kebijakan di Bali tidak
memiliki perencanaan yang jelas tentang pembangunan di daerahnya.
Begitu juga masyarakat dengan sangat mudahnya menjual tanah miliknya.
Dalam konteks ini, tidak ada pihak yang dapat dibenarkan dan
disalahkan. Untuk kesinambungan pembangunan Bali, semua elemen
masyarakat harus berpegang teguh pada visi dan misi yang telah
ditetapkan.
Yang menjadi persoalan adalah, sudahkah Bali memiliki visi dan misi
tentang pembangunan ke depan? Visi dan misi ini harusnya melekat di
setiap sanubari masyarakat Bali, tidak hanya dalam kata-kata namun
dalam tindakan nyata.
Penulis, dosen Tetap STIM Dhyana Pura, mahasiswa MA in
International Leisure and Tourism Studies CHN, tinggal di Leeuwarden,
Belanda
———————————
* Masyarakat Bali telah mengalami pergeseran gaya hidup
* Perlu gerakan semua elemen masyarakat untuk mendukung ajeg Bali.
* Pembangunan fisik masih dilakukan secara parsial sehingga menimbulkan dampak yang tidak baik.
* Visi dan misi ini harusnya melekat di setiap sanubari masyarakat Bali tidak hanya dalam kata-kata namun dalam tindakan nyata.












