Prepared for Bahan Kuliah | Opini | Artikel | Download Gratis | Kumpulan bahan kuliah: judul, ekonomi, pariwisata, statistik, penelitian, metodologi, makro, mikro, pemasaran, perhotelan, sumberdaya manusia, akuntansi, sistem informasi, strategik, manajemen

Archive for December, 2006


ORGANISASI YANG BERKESINAMBUNGAN

ORGANISASI YANG BERKESINAMBUNGAN
Oleh
I Gusti Bagus Rai Utama, SE., MMA

Kalau
berbicara oraganisasi, pastilah kita berbicara tentang manusia. Jika
kita mendengar Jemaat GKPB, kita akan membayangkan ada persekutuan
individu-individu yang mempunyai maksud dan tujuan setidak-tidaknya
mirip atau hampir sama. Jika masing-masing individu pada sebuah
organisasi hanya focus pada diri sendiri (Care for me) pastinya
organisasi tersebut diragukan kesinambungannya.

Pada
tahap-tahap awal berdirinya sebuah oraganisasi jika ingin berlanjut
selangkah saja, setidak-tidaknya diperlukkan interaksi dua arah antar
anggotanya. Terjadi jalinan komunikasi dua arah sehingga permasalahan
internal sebuah organisasi akan menjadi ringan karena semakin banyak
orang turut mengangkatnya. Masih ada kata-kata manis terucap di bibir
para anggota jemaat yang mendukung sesamanya (Care for me and you),
misalnya saja “kalau aku diselamatkan, engkau juga harus selamat”.
Mungkin pada permulaan berdirinya GKPB diawali oleh tahapan ini, namun
itu dulu, persoalan jemaat masih sederhana dan masih bisa dipantau oleh
pengamatan orang biasa.

Sekarang, zaman sudah berubah,
tantangan dan ancaman sebuah organisasi pada zaman ini sungguh sangat
kompleks, dan mungkin saja tidak dapat kita amati dari satu atau dua
dimensi saja. Permasalahan menjelang masa global diperlukan pengamatan
multidimensi. Para pemimpin dipaksa untuk dapat berpikir
multidimensional (Care for all and Interinpendency), jika tidak,
pastilah para anggotanya akan berantakan. Kalau boleh mengutip satu
kalimat dari sebuah artikel di Bali Post bunyinya seperti ini, “Agama
tidak hanya mengurus urusan ceremonial saja tetapi agama harus mampu
juga memecahkan masalah kesejahteraan anggotanya”, masalah harmoni
keluarga, dan masalah lainnya yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan
oleh para pemimpin agama. Mungkin saja GKPB telah melakukan usaha-usaha
semacam ini namun perkembangan zaman dan permasalahaan selalu lebih
cepat dari apa yang telah dibayangkan oleh para pemimpin kita. Zaman
telah menguji bahwa organisasi-organisasi gereja di dunia barat/eropa
terancam akan menjadi museum karena para generasi muda tidak tertarik
lagi datang ke gereja. Ada pertanyaan seperti ini “Mereka kan sudah
makmur kenapa gereja hanya dikunjungi oleh kaum manula saja?” itu
artinya, permasalahan gereja sangat kompleks tidak hanya bisa dilihat
dari factor kemakmuran saja tetapi banyak factor lain lagi yang
mempengaruhi keberlangsungan organisasi gereja apalagi menjelang
globalisasi.
Sekarang persoalannya, mungkinkah akan ditemukan
pemimpin gereja yang dapat berpikir multidimensional? Kalau mungkin!,
mungkin hanya seorang dari duaratus juta orang jemaat karena pada
prinsipnya manusia memiliki kelemahan disamping juga kelebihan yang
diberikan oleh Tuhan.
Tanpa memandang siapa yang menjadi pemimpin,
care for me and you akan menjadi tangga pertama untuk menciptakan
organisasi yang berkesinambungan, sembari kita berjalan bersama,
menaiki tangga berikut yang berlabel care for all. Setiap jemaat
proactive dalam melayani tidak harus menunggu petunjuk pendetanya.
Optimis bahwa program yang akan dijalankan pasti mampu untuk
diselesaikan, dengan catatan berdasarkan realitas dan factual (begin
with the end in mind). Membuat program jemaat yang bersifat penting
pada prioritas awal untuk dijalankan kemudian program-program yang
lainnya (put first things first). Program yang baik bukan karna
banyaknya item program tetapi kualitas dari penyelesaian dari sebuah
program. Jika terjadi konflik dalam berjemaat hendaknya diselesaikan
dalam level kekeluargaan terlebih dahulu tetapi tidak ada jemaat yang
merasa kalah atau menang, namun semua merasa dimenangkan (think
win-win).
Jemaat yang modern tidak mudah untuk menghakimi
sesamanya, namun turut bersama-sama mencari akar permasalahan kenapa
permasalahan bisa terjadi, artinya kita berusaha untuk mengerti
permasalahan terlebih dahulu sebelum kita mengerti benar masalahnya
lalu turut memberikan solusi yang dapat kita sumbangkan (seek first to
understand, then be understood).
Ada anggota jemaat paling hoby
tidak datang jika diundang pertemuan misalnya pertemuan masalah
pembangunan, rapat jemaat atau pertemuan yang lainnya dengan alasan
bahwa pendapatnya tidak berarti apa-apa. Nah, persoalannya bukan
masalah berarti atau tidaknya sebuah pendapat. Kembali lagi pada
ungkapan lama, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Semua
pendapat akan menjadi sama pentingnya walaupun ia hanya berpendidikan
tidak terlalu tinggi, mungkin saja ia mampu melihat solusi dari dimensi
yang tidak terjangkau oleh anggota yang lainnya (synergize).
Banyak
sekali para pemimpin gereja yang merasa pengetahuan dan ketrampilannya
sudah cukup untuk melayani jemaat, dikiranya jemaat ini statis, oh,
tidak! Jemaat kita sangat dinamis, mungkin saja dalam setiap lima tahun
muncul sarjana-sarjana baru di jemaat-jemaat, level permasalahan jemaat
juga akan semakin kompleks dan mungkin saja tidak terjangkau oleh
pendetanya yang agak malas untuk improve diri. Kalau saja hal ini
benar-benar terjadi di GKPB, akan ada jemaat yang merasa persoalannya
tidak tertangani akan beralih pada pelayan jemaat yang dianggap mampu
menyelesaikan masalahnya (Always improve our skills including verbal,
mental and physical skills).
Solusi di atas mungkin akan menjadi
Brainstorm solutions/ideas untuk organisasi yang ingin sustainable,
tidak terbatas hanya organisasi GKPB saja, termasuk juga organisasi
yang lainnya karna pada prinsipnya organisasi yang ada di dunia ini
adalah tentang manajemen manusia. Tuhan Yesus datang dengan sebuah goal
yang amat penting yakni sebuah goal Penyelamatan Manusia agar tidak
jatuh ke dalam api neraka melainkan beroleh hidup yang kekal. Kalau
boleh diterjemahkan dalam istilah dunia yakni “sustainable-life”. Dapat
dipastikan tanpa harus diuji dengan uji statistic atau survey, semua
organisasi yang ada di dunia ini menginginkan organisasinya
berkesinambungan sepanjang masa.
Note:
• Jika anda membaca
secara seksama artikel ini, sebenarnya anda telah membaca satu seri
buku best seller yang berjudul “The Seven Habits of Highly Effective
People dari Stephen R. Covey” secara lengkap.
• Penulis adalah
Dosen Tetap STIM Dhyana Pura, Mahasiswa Master of Art in International
Leisure and Tourism Studies CHN Leeuwarden, Belanda.